Rabu, 30 April 2025

Adab Berbicara Dalam Islam : Etika Komunikasi Yang Berkah



Di antara nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah kenikmatan bisa berbicara. Allah berfirman di dalam surat Al Balad ayat 18-19:

 اَلَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ عَيْنَيْنِۙ وَلِسَانًا وَّشَفَتَيْنِۙ

Artinya: "Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang matalidah dan sepasang bibir."


Lihatlah saudara kita yang tidak bisa berbicara. Mereka sulit untuk menyampaikan maksud hati. Mereka harus berlatih bahasa isyarat agar bisa menyampaikan sesuatu hal. Maka dari itu, sudah sepatutnya bagi kita untuk mensyukuri nikmat ini. Salah satu caranya adalah dengan memerhatikan adab ketika berbicara. Di antara adab-adab dalam berbicara adalah: 

1. Berbicara hal yang baik. Kalau tidak mampu, maka hendaklah dia diam.

Dalam kutipan hadits Arbain An-Nawawiyah dari Abu Hurairah dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47]

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar.” [Al-Ahzab/33 : 70-71]

Di antara ucapan yang baik adalah dzikrullah dan ucapan yang baik di sisi kebiasaan manusia (yang bermanfaat). Dan di antara ucapan yang tidak baik adalah seperti ghibah, namimah (adu domba), fitnah, dan termasuk juga berbicara suatu hal yang tidak bermanfaat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Artinya : “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kata Ibnu Rajab rahimahullah, “Mayoritas perkara yang tidak bermanfaat muncul dari lisan yaitu lisan yang tidak dijaga dan sibuk dengan perkataan sia-sia” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 290).

Tentang keutamaan menjaga lisan ini diterangkan dalam ayat berikut yang menjelaskan adanya pengawasan malaikat terhadap perbuatan yang dilakukan oleh lisan ini. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ 

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 16-18). 

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika hari Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187).

2. Tidak tergesa-gesa dalam berbicara. Hal ini bertujuan agar apa yang kita sampaikan mudah dipahami lawan bicara.

3. Tidak memotong pembicaraan lawan bicara. Jika ingin memotong pembicaraan, maka sampaikan dengan kalimat yang baik.

4. Tidak berbicara dengan nada tinggi atau emosi yang meluap-luap.

5. Mendahulukan yang lebih tua. Ini adalah bentuk rasa hormat kita kepada yang lebih tua.

6. Melihat kondisi pemahaman lawan bicara agar tidak timbul fitnah (kesalahpahaman)

Dengan memperhatikan adab-adab dalam bicara, insya Allah kita akan memperoleh keberkahan di dalamnya. Syarat akan ilmu dan pahala besar yang kita nantikan. 

Bijaklah dalam berucap, insya Allah selamat dunia akhirat.



Penulis : Dwi Astrini_Pati_@dwiastrini91

Sumber :

- qbest.id/app67c140fa3fb32

- Muhammad Abduh Tuasikal. (2012). Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat. Rumaysho.Com.

- Muhammad Abduh Tuasikal. (2018). Hadits Arbain #15: Berkata yang Baik, Memuliakan Tamu dan Tetangga. Rumaysho.Com.

- Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr (2004). Menjaga Lisan agar selalu Berbicara Baik. almanhaj.or.id. Bandung: Titian Hidayah Ilahi.

- HSI TV-AbdullahRoy. Seriål Adab Islami-Adab Berbicara

__________

@kursusmadinahsalam

Rabu, 16 April 2025

10 Tips Cara Menjaga Hati Tetap Bersih dan Dekat Dengan Allah

Sesungguhnya perhatian syariat terhadap hati sangat besar. Karena hati mencerminkan ketaqwaan seseorang dan terlihat dari lisan dan perilaku. Amal seseorang diterima ataukah tidak, tergantung hatinya.

Berikut ini adalah 10 tips menjaga hati agar tetap di jalan Allah, yaitu:

1. Menjaga lisan

لَا يَسْتَقِيْمُ إِيْمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ ، وَلَا يَسْتَقِيْمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيْمَ لِسَانُهُ

"Tidaklah lurus iman seorang hamba sampai lurus hatinya dan tidaklah istiqomah hatinya sampai istiqomah lisannya." (HR. Imam Ahmad)

Bahwasanya lisan punya pengaruh besar terhadap hati, sehingga kita harus lebih berhati-hati terhadap apa yang dibicarakan. Topiknya, harus terarah atau tidak boleh sembarangan. Jauhkan diri dari namimah, gibah, membicarakan kejelekan orang lain karena itulah sangat berpengaruh kepada hati seseorang.


2. Banyak beristighfar

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Sesungguhnya ada yang mengganggu hatiku, Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah, setiap hari 100 kali"

3. Jangan terlalu banyak tahu urusan orang dan jangan suka mendengar kejelekan orang (jangan kepo)

"Sebaik-baik amalan adalah bersihnya hati dari segala permusuhan seluruhnya"

Jadi kalau hati bersih tidak tau keburukan orang, tidak tau permasalahan orang itu lebih baik, sebisa mungkin.

-Ibn Rajab Al Hanbali


4. Berusaha tentram dan bahagia tatkala sendirian

Diisyaratkan dalam hadist, kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam 7 golongan yang Allah naungi dihari kiamat kelak, diantaranya "Seorang yang dia bersendirian mengingat Allah, maka kemudian dia meneteskan air mata"

Latih diri kita untuk merasakan kenikmatan dalam kesendirian.


5. Banyak berzikir kepada Allah

الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (Q.S Ar Rad: 28)


6. Ikhlas kepada Allah

"Tanda kebahagian seorang hamba, dia ikhlas kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan dia berusaha untuk memberi manfaat kepada orang lain" Tafsir As Sa'di.


7. Membantu orang lain

Hendaknya ketika seseorang membantu orang lain benar-benar karena Allah, bukan dengan harapan bahwa orang tersebut akan membalas kebaikan di kemudian hari kelak. Sebab mengharapkan kebaikan kepada manusia, ketika tidak sesuai maka akan menimbulkan kekecewaan. Namun jika karena Allah, apapun takdir-Nya hati kita akan terasa lebih lapang dalam segala keadaan.


8. Jangan masukkan dunia di hati

Cukup letakkan dunia hanya di tangan saja, apabila dunia pergi maka kita akan biasa saja. Jadikan dunia sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan tujuan utama dalam kehidupan. 


9. Senantiasa menerima takdir Allah

Sehingga senantiasa husnudzon kepada Allah.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ وَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah (menerima takdir Allah), niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S Taghabun: 11)


10. Berdo'a

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

"Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu"

Agar doa ini dihafal, semoga Allah meneguhkan hati kita tetap dijalan-Nya.

Hendaknya sebagai muslim memperhatikan hati kita dengan seksama. Semoga Allah selalu melindungi kita dan meneguhkan hati ini diatas Al-Quran dan Sunnah sampai akhir hayat.

Penulis : Rizki Putri H - Volunteer Kursus Madinah Salam Angkatan 7

Sumber Referensi :

Andirja, Firanda. (2020). 10 Kiat-Kiat Hati Bersih. Available at: https://youtu.be/juHS4Alj3co?si=OTBavwu5r4UM5PC- 

__________

@kursusmadinahsalam