Di antara nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah kenikmatan bisa berbicara. Allah berfirman di dalam surat Al Balad ayat 18-19:
اَلَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ عَيْنَيْنِۙ وَلِسَانًا وَّشَفَتَيْنِۙ
Artinya: "Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, lidah dan sepasang bibir."
Lihatlah saudara kita yang tidak bisa berbicara. Mereka sulit untuk menyampaikan maksud hati. Mereka harus berlatih bahasa isyarat agar bisa menyampaikan sesuatu hal. Maka dari itu, sudah sepatutnya bagi kita untuk mensyukuri nikmat ini. Salah satu caranya adalah dengan memerhatikan adab ketika berbicara. Di antara adab-adab dalam berbicara adalah:
1. Berbicara hal yang baik. Kalau tidak mampu, maka hendaklah dia diam.
Dalam kutipan hadits Arbain An-Nawawiyah dari Abu Hurairah dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam, beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47]
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar.” [Al-Ahzab/33 : 70-71]
Di antara ucapan yang baik adalah dzikrullah dan ucapan yang baik di sisi kebiasaan manusia (yang bermanfaat). Dan di antara ucapan yang tidak baik adalah seperti ghibah, namimah (adu domba), fitnah, dan termasuk juga berbicara suatu hal yang tidak bermanfaat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
Artinya : “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Kata Ibnu Rajab rahimahullah, “Mayoritas perkara yang tidak bermanfaat muncul dari lisan yaitu lisan yang tidak dijaga dan sibuk dengan perkataan sia-sia” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 290).
Tentang keutamaan menjaga lisan ini diterangkan dalam ayat berikut yang menjelaskan adanya pengawasan malaikat terhadap perbuatan yang dilakukan oleh lisan ini. Allah Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 16-18).
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika hari Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allah” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187).
2. Tidak tergesa-gesa dalam berbicara. Hal ini bertujuan agar apa yang kita sampaikan mudah dipahami lawan bicara.
3. Tidak memotong pembicaraan lawan bicara. Jika ingin memotong pembicaraan, maka sampaikan dengan kalimat yang baik.
4. Tidak berbicara dengan nada tinggi atau emosi yang meluap-luap.
5. Mendahulukan yang lebih tua. Ini adalah bentuk rasa hormat kita kepada yang lebih tua.
6. Melihat kondisi pemahaman lawan bicara agar tidak timbul fitnah (kesalahpahaman)
Dengan memperhatikan adab-adab dalam bicara, insya Allah kita akan memperoleh keberkahan di dalamnya. Syarat akan ilmu dan pahala besar yang kita nantikan.
Bijaklah dalam berucap, insya Allah selamat dunia akhirat.
Penulis : Dwi Astrini_Pati_@dwiastrini91
Sumber :
- qbest.id/app67c140fa3fb32
- Muhammad Abduh Tuasikal. (2012). Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat. Rumaysho.Com.
- Muhammad Abduh Tuasikal. (2018). Hadits Arbain #15: Berkata yang Baik, Memuliakan Tamu dan Tetangga. Rumaysho.Com.
- Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr (2004). Menjaga Lisan agar selalu Berbicara Baik. almanhaj.or.id. Bandung: Titian Hidayah Ilahi.
- HSI TV-AbdullahRoy. Seriål Adab Islami-Adab Berbicara
__________
@kursusmadinahsalam







