Kamis, 23 Oktober 2025

BAGAIMANA ISLAM MEMBENTUK PERADABAN DUNIA?

Membentuk peradaban umat yang berkualitas tentu bukanlah perkara yang bisa diwujudkan dalam waktu yang singkat. Semua harus dipersiapkan semaksimal mungkin, agar bisa merealisasikan masyarakat Islam yang taat akan syari’at guna menopang langkah menuju kejayaan Islam. Selain itu, kita juga harus paham akan teknologi modern. Harus selalu mengasah kemampuan diri untuk terus berkembang, agar tidak tertinggal oleh umat yang tidak satu aqidah dengan kita. 

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersama kaum muslimin selama kurang lebih 23 tahun di Makkah dan Madinah berhasil membangun peradaban berkemajuan yang dilambangkan dengan Al-Madinah Al-Munawwarah. Suatu peradaban berkemajuan yang cerah dan mencerahkan berbasis agama. Bukan peradaban duniawi semata, tetapi peradaban yang lahir dari Wahyu Ilahi dan menyinari alam semesta dalam risalah rahmatan lil-‘alamin. Hal ini bisa kita jadikan acuan utama untuk merombak kekurangan yang ada pada diri umat Islam sekarang ini. Merancang berbagai aspek agar bisa mengulang kembali sejarah kemajuan Islam.

Perjuangan Islam pasca Rasulullah wafat dilanjutkan oleh kaum muslimin di bawah kepemimpinan Khulafau Al-Rasyidin, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddieq, Umar Ibn Kahttab, Utsman Ibn Affan, dan Ali Bin Abi Thalib, radhiallahu ‘anhum. Setelah itu peradaban Islam meluas dan Islam menjadi agama peradaban dunia selama sekitar 7 abad lebih lamanya pada era Kekahalifahan atau Dinasti Umayyah, Abassiah, dan Utsmaniah. 

Perkembangan Islam dalam kacamata sejarah, terbagi menjadi tiga periode yaitu pertama, periode klasik, pada masa ini Islam mengalami kemajuan bahkan disebut sebagai masa keemasan Islam. Namun sekitar tahun 650-1250 Masehi Islam mengalami gelombang disintegasi (pemecahan). Kedua, periode pertengahan tepatnya pada tahun 1250-1800, pada periode abad pertengahan ini Islam juga mangalami kemunduran cukup signifikan. Ketiga, periode modern yang dimulai dari tahun 1800 hingga saat ini. Setiap perkembangan periode, terdapat perbedaan dimensi yang dipengaruhi oleh sosial, politik, budaya, dan agama.

Masa kejayaan Bani Abbasiyah, tepatnya pada masa khalifah Harun al-Rasyid dan anaknya al–Ma’mun, ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum sangat berkembang pesat mulai ilmu fikih, tafsir, hadis, kalam, tasawuf, dan siyasah. Sedangkan bidang ilmu pengetahuan umum antara lain adalah ilmu filsafat, kedokteran, astronomi, farmasi, geografi, sejarah, dan bahasa. Islam sangat terbuka terhadap peradaban bangsa lain hingga membuat Islam semakin maju dalam hal peradaban. Ketika Barat masih terkungkung dalam kegelapan, umat Islam sudah berhasil melestarikan pemikiran-pemikiran dan kebudayaan Romawi – Persia. Maka tidak heran banyak sarjana Barat yang mendatangi negara-negara Islam dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan Islam untuk kemudian dibawa ke negara mereka masing-masing.

Banyak yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan bermula dari dunia Islam yang kemudian mengalami transmisi (penyebaran) dan poliferasi (pengembangan) ke dunia Barat. Melalui dunia Islam mereka mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern sebagaimana diungkapkan Gore Barton bahwa orang-orang Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan tidak merujuk sepenuhnya kepada sumber-sumber Yunani melainkan kepada sumber-sumber Arab.

Pada abad ke-12, merupakan peradaban Islam yang tertinggi dari sepanjang tahun sebelumnya sehingga banyak buku ilmu pengetahuan dan filsafat karangan para ahli dan filsuf Muslim diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa. Di masa itu juga tercatat sebagai masa awal kemunduran umat Islam sedangkan di Barat mulai gemilang dengan kesadaran dan perhatian bangsa Barat terhadap ilmu pengetahuan dengan menerjemahkan buku-buku hasil karya cendikiawan Muslim hingga akhirnya membuat pola perubahan kiblat pengetahuan dari yang sebelumnya berkiblat kepada peradaban Islam menjadi berkiblat kepada peradaban Barat. Selain itu, Islam juga hadir di tengah kerasnya peradaban Jahiliyah di Jazirah Arab sehingga mampu merubah peradaban Jahiliyah yang ada di Jazirah Arab saat itu, maka dalam perspektif historis Islam sudah banyak memainkan peran yang signifikan dalam perkembangan beberapa aspek peradaban dunia. Mulai dari masa kenabian sampai wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi kita umat Islam. Tapi, sayangnya banyak sekali dari kita yang enggan menuju kemajuan. Terlalu nyaman dalam kemalasan dan bertahan dalam kemunduran. Malas membaca, lebih mudah mengikuti hal-hal negatif yang dianggap hal yang wajar seperti banyaknya umat Islam yang ikut berjoget di depan kamera lalu mengunggahnya ke media sosial. Seolah mereka sudah tidak memiliki rasa malu. Jika hal tersebut tidak dicegah, bagaiman cara Islam membawa perubahan yang lebih baik?

Telah disebutkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan umat Islam sejak 14 abad silam turut mewarnai peradaban dunia, bahkan pesatnya perkembangan Islam ke Barat dan Timur membuat peradaban Islam dianggap sebagai peradaban yang paling besar pengaruhnya di dunia dengan beberapa indikator sebagai berikut : 

  1. Keberadaan perpustakaan Islam dan lembaga-lembaga pendidikan/ keilmuan, yaitu Baitul Hikmah, Masjid al-Azhar, Masjid Qarawiyyin dan sebagainya, yang mana tempat-tempat ini merupakan pusat perkumpulan para intelektual Muslim untuk menyelenggarakan proses pengkajian dan pengembangan ilmu dan sains.
  2. Peninggalan karya intelektual Muslim, yaitu karya Ibnu Shina, Ibnu Hisyam, imam Syafi’i, imam Abu Hanifah, dan masih banyak lagi yang lainnya.
  3. Penemuan-penemuan intelektual yang dapat mengubah budaya dan tradisi umat manusia, yaitu penemuan kertas, karpet, kalender Islam, penyebutan hari-hari, seni arsitektur, tata perkotaan, dan perekonomian. 
  4. Pengaruh konsep iman, ihsan, dan takwa, yang melahirkan budaya amn (rasa aman) dan amanah (tanggungjawab terhadap amanah), sedangkan dari konsep ihsan dan takwa melahirkan budaya hasanah (keindahan) dan husn (kebaikan). Khususnya, pada masa kepemimpinan Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun sangat memperhatikan ilmu pengetahuan yang ditandai dengan penerjemahan buku-buku yang ke dalam bahasa Arab, bahkan khalifal al-Ma’mun telah mendirikan Bait al-Hikmah yang mengkaji cabang-cabang ilmu kedokteran, fisika, geografi, astronomi, optik, sejarah, dan filsafat. Tidak hanya dibidang ilmu-ilmu umum, tetapi pada periode ini ilmu-ilmu keagamaan dalam Islam juga mulai disusun dengan rapi, maka dalam bidang penyusunan hadits dikenal nama imam Bukhari dan Muslim, bidang fikih dikenal nama imam Abu Hanifah dan imam Malik bin Anas, di bidang tafsir dikenal nama imam athThabari, bidang sejarah dikenal nama Ibnu Hisyam, bidang tasawuf terdapat nama Abu Yazid al-Busthami, Husain bin Mansur al-Hallaj dan bidang-bidang lainnya.

Beberapa hal di atas menunjukkan bahwa Islam sudah menunjukkan kemajuan sejak zaman dahulu kala. Tapi sebagian dari kita banyak yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik.

Kemajuan atau kejayaan Islam membentang dari Jazirah  Arab sampai Iberia di Andalusia Spanyol dan Portugal, Perancis bagian Selatan, kawasan Balkan, Asia Tengah dan Asia Selatan, sampai Asia Timur dan Asia Tenggara. Menurut Kraemer (2003) era kejayaan itu disebut sebagai era “Renaisans Islam” (Die Rennaisance des Islams) yang bersifat khas. 

Era renaisans Islam merupakan bukti sejarah yang nyata bahwa Islam merupakan agama yang berkemajuan di tangan para pemeluknya yang berjiwa dan berpikiran maju, sehingga Islam menjadi realitas sosiologis yang hadir dalam membangun peradaban dunia. Terbentuknya peradaban Islam yang utama itu tidak lepas dari spirit iman,  ijtihad,  dan tajdid yang menyatu dalam kehidupan umat Islam. Rasulullah sendiri melalui sebuah hadits memberikan perspektif, bahwa pada setiap kehadiran abad baru datang mujadid yang akan memperbarui paham agama. Maknanya bahwa pada setiap babakan sejarah yang penting dan krusial selalu dibutuhkan pembaruan, sehingga Islam mampu menjawab tantangan zaman. Islam dan umat Islam tidak boleh jumud atau statis, sebaliknya harus dinamis dan progresif. Itulah spirit dan pandangan Islam yang berkemajuan sebagai tonggak peradaban dunia. Harus selalu menanamkan pada diri masing-masing bahwa Islam dengan segala ilmu pengetahuan dunia dan agama, kelak akan bisa memimpin peradaban dunia. Maka jangan sampai kita tidak mengambil bagian di dalamnya. Kuatkan langkah kita dengan semangat belajar segala ilmu yang bermanfaat, meningkatkan ketaatan dengan ibadah wajib dan sunnah, serta senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah di antara umat Islam.

Kemajuan dunia Islam yang berperadaban tinggi itu menurut Tamim Ansary (2010) bukanlah sejarah “pendek” atau “singkat” dan “alegoris” (kiasan) atau “mitos” dari lintasan peradaban dunia sebagaimana pada umumnya narasi para penulis Barat yang lebih menggambarkan kuatnya peradaban Yunani, Romawi, dan Barat modern. Peradaban Islam itu hadir dalam sejarah yang panjang, menyejarah, dan meluas ke seluruh kawasan dunia dengan puncak kejayaan yang tinggi mempengaruhi peradaban dunia. Sejarah kemajuan peradaban Islam itu membentang beberapa ribuan tahun dan meluas ke seluruh benua sebagai sebuah narasi besar tentang sejarah kejayaan Islam di pentas dunia yang tidak kalah dan bahkan memiliki keunggulan unik daripada peradaban Yunani, Romawi, dan Barat modern yang dimulai dari era Rasulullah yang berakhir tahun 632 masehi sampai kejatuhan kekhalifahan Othman tahun 1924. Itulah sejarah kemajuan peradaban Islam yang benar-benar terjadi dan mengubah dunia menjadi peradaban kosmopolitan yang modern berkemajuan.

Umat Islam pada umumnya harus yakin bahwa sejarah kemajuan Islam akan berulang. Peradaban dunia yang penuh dengan kebermanfaatan akan kembali mengudara bersama hamba-hamba Allah yang tegar di atas agama Allah. Allah yang punya kuasa atas segala cerita di dunia. Maka jangan sampai kita putus do’a untuk membuat Islam kembali berjaya. Sungguh dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Jangan sampai kita terlena oleh dunia yang kita tidak akan tinggal di dalamnya untuk selamanya.


Penulis: Dwi Astrini

Referensi:

Gunawan, Syafri. (2019) Peranan Islam Dalam Pembangunan Pradaban Dunia. Jurnal El-Qanuny  Volume 5 Nomor 1. Januari-Juni 

https://suaramuhammadiyah.id/read/sejarah-kemajuan-islam

____________________

@kursusmadinahsalam

Kamis, 02 Oktober 2025

FUTUR BUKAN AKHIR PERJALANAN: KIAT BANGKIT KEMBALI DI JALAN ILMU


Bismillaahirrahmanirrahiim... 

Sahabat Kurma, futur adalah kondisi ketika semangat untuk beribadah dan menuntut ilmu melemah. Futur merupakan ujian yang sering menimpa para penuntut ilmu. Tidak sedikit yang akhirnya terhenti di tengah perjalanan, bahkan ada yang —na’udzubillaah— menyimpang dari jalan lurus yang telah ditempuh para ulama rabbani. 


Futur ini bisa menimpa siapa saja, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan. Jika tidak segera diatasi, futur dapat menjadi malapetaka besar bagi seorang penuntut ilmu, hingga menyeretnya kepada penyimpangan, kemurtadan, bahkan kesesatan, wal ‘yadzu billaah. 

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Karena itu, futur tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti. Ia bukan akhir perjalanan kita dalam menuntut ilmu. In syaa Allah, kali ini kita akan membahas langkah-langkah mengatasi futur, semoga Allah Ta’ala selalu menguatkan hati kita agar tetap semangat menuntut ilmu. Aamiin, allaahumma aamiin... 


1. Menguatkan Keyakinan dan Kesabaran 

Sahabat Kurma, salah satu cara terpenting untuk mengatasi penyakit futur dalam menuntut ilmu adalah dengan memperkuat keyakinan dan kesabaran. Syaikh Abdul Aziz bin Dakhil Al-Muthairiy hafizhahullahu ta’ala menjelaskan bahwa, keyakinan adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Dengan keyakinan—atas izin Allah Ta’ala, seorang hamba akan terlindungi dari berbagai fitnah dijauhkan dari maksiat, serta dimudahkan dalam menjalankan ketaatan. 

Kemudian, kita diajurkan untuk menguatkan kesabaran dalam menuntut ilmu. Sahabat Kurma, Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang bersabar. Maka, penting bagi kita untuk meyakini janji ini dengan penuh kesadaran. Dengan begitu, semangat dalam menuntut ilmu akan tumbuh kembali, dan kita pun lebih teguh untuk terus bersabar. 


2. Bergembira dengan Karunia Allah Ta’ala dan Bersyukur Atas Nikmat-Nya

Sahabat Kurma, mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala untuk menuntut ilmu adalah karunia yang sangat agung bagi kita. Syaikh Abdul Aziz bin Dakhil Al-Muthairiy hafizhahullaah menyebutkan, bila seorang hamba menyambut karunia ini dengan penuh rasa syukur, menyadari betapa besar nilainya, dan merasa gembira atas pemberian Allah Ta’ala tersebut, maka in syaa Allah hamba tersebut akan dimudahkan dalam menuntut ilmu, meraih keberkahan darinya, serta dijaga dari perkara-perkara yang dapat menghalangi manfaat ilmu itu sendiri. 

Selain itu, jika kita mensyukuri nikmat menuntut ilmu dan bergembira atasnya. Maka, Allah Ta’ala akan membuka pintu-pintu kebaikan dan keberkahan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “...Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran: 145). 

Jika direnungkan, kita dapat mengetahui betapa besar pengaruh rasa syukur terhadap karunia dan petunjuk Allah Ta’ala; orang yang hatinya baik dan penuh rasa syukur akan dicintai Allah Ta’ala dan semakin diberikan karunia-Nya. Allah Ta’ala akan memberikan nikmat kepada orang yang memiliki hati bersih dan penuh rasa syukur, dimana nikmat ini akan melahirkan banyak kebaikan, seperti perbuatan yang baik, lisan yang baik, ketaatan kepada Allah Ta’ala, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Yang mana, hal-hal tersebut sangat dibutuhkan oleh kita, sebagai penuntut ilmu. 


3. Mengingat Kembali Keutamaan dan Kemulian Ilmu

Sahabat Kurma, perlu kita ketahui bahwa jika seseorang sudah lama menuntut ilmu kemudian ia disibukkan dengan banyak hal yang melalaikan, terkadang ia menjadi lupa akan kenikmatan menuntut ilmu, dan akhirnya semangatnya pun menurun. Karena itu, penting bagi kita sebagai penuntut ilmu untuk terus menjaga hari dari kelalaian, dengan cara sering mengingat kembali keutamaan dan keistimewaan menuntut ilmu. 

Sahabat Kurma, menuntut ilmu adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan jika ingin masuk surga—atas izin Allah Ta’ala. Disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699). 

Selain itu, keutamaan dan kemuliaan dari menuntut ilmu adalah menjadi sebab seseorang mendapatkan hidayah, akan mengantarkan pada ilmu lainnya yang dengan ilmu tersebut akan mengantarkan ia pada surga, Allah Ta’ala akan memudahkan jalan yang nyata menuju surga yaitu saat melewati shirath (sesuatu yang terbentang di atas neraka menuju surga), dan sebagainya. Sahabat Kurma, dengan kita mengingat ini—atas izin Allah Ta’ala, bisa menyembuhkan penyakit futur dan memulihkan semangat kita dalam menuntut ilmu. 


4. Menjauhi Hal yang Sia-sia dan Tidak Bermanfaat

Sahabat Kurma, di antara sebab penting lainnya untuk mengurangi rasa futur dalam menuntut ilmu adalah menjauhi hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Syaikh Abdul Aziz bin Dakhil Al-Muthairiy hafizhahullaah, menyampaikan bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan bisa mendapatkan ilmu secara benar jika masih tenggelam dalam kesia-sian. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: 

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan yang tidak berguna.” (Al-Mu’minun: 1-3). 

Banyak bidang ilmu pengetahuan yang menuntut agar pelajarnya berkonsentrasi penuh. Ia harus bersungguh-sungguh, fokus, dan serius dalam mempelajarinya. Namun, siapa yang tidak mampu berpaling dari hal-hal yang sia-sia, maka ia tidak akan bisa memberikan perhatian yang baik dalam menuntut ilmu. 

Syaikh Abdul Aziz bin Dakhil Al-Muthairiy hafizhahullaah juga menyampaikan bahwa seorang penuntut ilmu yang tidak menjauhi hal yang sia-sia lebih rentan terkena penyakit futur. Maka, salah satu nasihat yang penting bagi siapa pun yang sedang futur adalah kita harus mendidik diri ini untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. 


Sahabat Kurma, mari kita mengamalkan langkah-langkah di atas agar terhindar dari penyakit futur yang dapat menjangkit seorang penuntut ilmu. Yang apabila tidak segera diatasi, futur ini akan memberikan dampak yang berbahaya bagi kita. Sahabat Kurma, kita sebagai penuntut ilmu hendaknya menyadari bahwa semua urusan kembali kepada Allah Ta’ala, tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan izin-Nya, dan segala sebab tidak akan bermanfaat kecuali dengan pertolongan dan taufik-Nya. 

Sahabat Kurma, ayo gunakan waktu sebaik-baiknya. Daftar di Kursus Madinah Salam, dan raih manfaatnya! Semoga Allah memberkahi langkah kita. Aamiin allahumma aamiin. 



Penulis: Denna Rianda Toni

Referensi: 

Al-Muthairiy, Abdul Aziz bin Dakhil. (2025). Kiat Mengobati Futur Dalam Menuntut Ilmu. DAR Al FAUZ: Surakarta. 

Tuasikal, Muhammad Abduh. (2012). Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat. Availabel at: https://rumaysho.com/12363-menuntut-ilmu-jalan-paling-cepat-menuju-surga.html

____________________

@kursusmadinahsalam