Selasa, 27 Mei 2025

5 Tips Menjaga Keimanan dalam Rutinitas Sehari-hari

 


Keimanan memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan seorang hamba. Hal ini dikarenakan iman merupakan kewajiban yang paling mendasar dan paling agung. Seluruh bentuk kebaikan maupun keburukan yang dialami oleh seorang hamba, sangat bergantung pada sejauh mana kebenaran dan kekuatan imannya kepada Allah Ta’ala. 

Oleh karena itu, sudah semestinya setiap muslim dan muslimah berupaya bersungguh-sungguh untuk senantiasa memperbaharui, menjaga, serta meningkatkan keimanannya, agar tidak melemah dan tidak berkurang seiring waktu. Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, iman bukan sesuatu yang statis. Ia dapat bertambah dengan ketaatan dan menurun karena kemaksiatan. Bahkan, iman bisa mencapai kesempurnaan ketika seorang hamba terus istiqamah dalam kebaikan dan menjauhi larangan-Nya, atas izin dan rahmat dari Allah Ta’ala.

Berikut beberapa tips menjaga keimanan dalam rutinitas sehari-hari:

  • Berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Doa merupakan bukti ketergantungan seorang hamba baik muslim maupun muslimah kepada Rabbnya Subhanahu Wa Ta’ala di dalam meraih segala perkara yang bermanfaat dan menolak segala perkara yang mudharat atau membawa keburukan bagi seorang hamba. Doa adalah bukti kecondongan seorang hamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwasanya tiada daya dan upaya manusia melainkan dengan bantuan-Nya. Berikut doa yang dapat kita panjatkan untuk memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia memberikan taufik kepada kita untuk menjaga keimanan dalam rutinitas sehari-hari.

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Artinya : “Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

  • Mengawali pagi hari dengan membaca al-qur’an 

Waktu pagi adalah permulaan hari, saat di mana keberkahan diturunkan, jiwa masih bersih, dan semangat masih menyala. Sungguh, Islam mengajarkan kepada kita betapa bernilainya waktu pagi, dan betapa meruginya orang yang menyia-nyiakan saat-saat tersebut untuk tidur atau lalai. 

Salah satu ibadah yang dapat dilakukan untuk mendapatkan keberkahan atas taufik dari Allah adalah membaca al-Qur’an. Hal ini dikarenakan membaca al-Qur’an adalah ibadah yang tidak patut ditinggalkan oleh seorang hamba baik muslim maupun muslimah, sahabat. Kita jangan pernah meninggalkan membaca al-Qur’an dengan alasan kesibukan duniawi ataupun karena mengalami sakit, juga dalam setiap situasi dan kondisi, meskipun kita hanya membaca satu ayat. 

Sahabat, al-Qur’an kelak atas izin Allah bisa memberi syafa’at bagi kita di hari yang penuh kesulitan pada hari kiamat kelak. Dari Abu Umamah Al-Bahiliy, (beliau berkata), “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ اقْرَءُواالزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍصَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَابَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

Artinya : “Bacalah Al Qur’an karena Al Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafi’ (pemberi syafa’at) bagi yang membacanya. Bacalah Az Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membentangkan sayapnya (bersambung satu dengan yang lainnya), keduanya akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca dua surat tersebut. Bacalah pula surat Al Baqarah. Mengambil surat tersebut adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya akan mendapat penyesalan. Para tukang sihir tidak mungkin menghafalnya.” (HR. Muslim no. 1910. Lihat penjelasan hadits ini secara lengkap di At Taisir bi Syarhi Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, 1/388, Asy Syamilah)

  • Selalu Mengingat kematian

Mengingat kematian bisa menjadi salah satu cara agar keimanan kita terjaga setiap harinya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari atas izin Allah Ta’ala. Ustaz Yazid rahimahullah menyampaikan, di antara perkara yang dapat membantu kita agar terus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, yaitu banyak mengingat kematian dengan hati, lisan, dan pikiran. Sebab, kematian adalah akhir yang pasti bagi seluruh makhluk, serta pemisah antara kehidupan dunia dengan alam barzakh. Sehingga, ketika seorang hamba selalu mengingat kematian maka, seorang hamba tersebut akan betul-betul memanfaatkan waktunya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari apabila ia mengingat kematian. 

Sahabat yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala, kita harus ingat bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alayihi Wa sallam memerintahkan kita untuk senantiasa mengingat kematian agar kita memanfaatkan waktu hidup kita yang tersisa ini untuk melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Beliau shallallahu alayhi wa sallam bersabda, 

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Artinya : “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An-Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.

  • Bersyukur

Rutinitas sehari-hari yang berulang mulia dari bangun tidur, bekerja, mengurus rumah, belajar, atau mengajar terkadang menyebabkan hati mulai terasa kering. Namun, seorang hamba yang ingin menjaga keimanannya tetap hidup, tidak bisa hanya mengandalkan waktu-waktu khusus. Ia harus menjaga hatinya di sela-sela kesibukan, dan salah satu caranya adalah dengan Syukur. Allah Ta’ala berfirman,

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧

Artinya : “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)

Bersyukur bukan hanya sekedar lisan kita mengucapkan alhamdulillah, tapi pengakuan hati terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala, disertai dengan melakukaan amal ketaatan. 

Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata: 

“Syukur itu dengan hati, lisan, dan anggota tubuh. Hati mengakui nikmat, lisan memujinya, dan anggota tubuh menggunakannya dalam ketaatan.” (Madaarijus Saalikin, 2/246). 

Sahabat, apabila kita ingin menjadi seorang hamba yang menjaga keimanannya di Tengah rutinitas, hendaknya menghidupnya rasa Syukur setiap hari: 

Saat bangun pagi, ucapkan:

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

Artinya : “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami…” (HR. Bukhari)

Saat bisa mengerjakan tugas, mengerjakan pekerjaan, menyelesaikan amanah pekerjaan dari bos atau atasan, dsb. Sadarilah bahwa itu adalah atas taufik, pertolongan, karunia, dan kekuatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Saat bisa melaksanakan shalat, membaca al-Qur’an, menambah hafalan, dzikir pagi dan petang, melaksanakan shalat sunnah, puasa sunnah, dan ibadah-ibadah lainnya, syukurilah karena Allah masih memberikan kita taufik untuk taat. 

Dari al-Fudhayl bin ‘Iyadh rahimahullah, ia berkata: 

“Dua perkara yang akan menguatkanmu dalam menjalankan ketaatan kepada Allah; bersyukur atas nikmat-Nya, dan merasa butuh kepada-Nya.” (Hiyatul Auliya’, 8/109)

Bersyukur itu menjaga keimanan karena dengan kita banyak bersyukur kepada Allah Ta’ala akan melahirkan kerendahan hati, menjauhkan dari keluh kesah, dan membuat kita lebih mudah ridha atas ketetapan yang Allah berikan kepada kita, sahabat. 

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: 

“Syukur adalah setengah dari iman, dan sabar adalah setengahnya lagi.” (Majmu’ Fataawa, 10/37). 

Maka sahabat, menjaga keimanan tidak harus menunggu momen besar. Keimanan bisa kita rawat dari hal sederhana-dengan bersyukur saat membuka mata, saat memasak, saat menuntut ilmu, bahkan saat lelah, tentunya atas taufik dari Allah Ta’ala. Sebab semua itu adalah ladang amal shalih jika diniatkan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

  • Memiliki Teman yang Baik 

“Dengan siapa engkau bersahabat, disitulah dirimu akan terbentuk.” Setiap hari, kita tidak pernah lepas dari pergaulan dan interaksi dengan orang lain. Di antara banyaknya manusia yang kita temui, teman dekat memiliki peranan besar dalam membentuk cara berpikir, akhlak, bahkan keimanan kita. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda: “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh al-Albani). 

Betapa pentingnya memilih teman yang baik, teman yang shalih, yang mengingatkan kita kepada Allah Ta’ala ketika lupa, menasihati ketika kita salah, dan mengajak dalam kebaikan ketika iman kita mulai melemah. Karena sejatinya, teman bukan hanya penghibur dunia, tapi juga bisa menjadi penolong menuju surga. Kemudian, teman yang baik akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat kita terjatuh dalam kesalahan. 

Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”

Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.

Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya,

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ

Artinya : “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”

Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kita taufik, hidayah, dan pertolongan-Nya kepada kita agar kita dapat menjaga keimanan kita dengan baik, aamiin allaahumma aamiin. 


Referensi

Abu Ihsan al-Atsari. 2014. Panduan Amal Sehari Semalam. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i. 

Hidayat, Fauzan. (2022). Amalan Tersembunyi dalam Doa Bangun Tidur. Muslim.or.id. https://muslim.or.id/78651-amalan-tersembunyi-dalam-doa-bangun-tidur.html. Diakses 8 Mei 2025. 

Putra, Ali Musri Semjan. (2011). Keutamaan Ilmu dalam Islam. Muslim.or.id. https://muslim.or.id/12345-keutamaan-ilmu-dalam-islam.html. Diakses 30 April 2025. 

Shofiyyurrahman. (2016). Dalil Iman Itu Bertambah dan Berkurang. Rumaysho.com. https://rumaysho.com/13108-dalil-iman-itu-bertambah-dan-berkurang.html. Diakses 30 April 2025. 

Tausikal, Muhammad Abduh. (2019). 13 Kiat Agar Kokoh di Atas Iman. Rumaysho.com. https://rumaysho.com/22475-13-kiat-agar-kokoh-di-atas-iman.html. Diakses 30 April 2025. 

Tausikal, Muhammad Abduh. (2019). Doa Meminta Kekokohan Iman. Rumaysho.com. https://rumaysho.com/22471-doa-meminta-kekokohan-iman.html. Diakses 30 April 2025. 

Tausikal, Muhammad Abduh. (2009). Isilah Waktu Pagimu dengan Al-Qur’an. Rumaysho.com. https://rumaysho.com/173-isilah-waktu-pagimu-dengan-al-quran.html. Diakses 2 Mei 2025. 

____________________

Denna Rianda Toni - Volunteer Kursus Madinah Salam Angkatan 7


Tidak ada komentar:

Posting Komentar